Press "Enter" to skip to content

Kemewahan Masjid An-Namirah

Banyak jamaah merasa takjub menyaksikan megah nya Masjid Namira. Masjid ini terletak di atas padang pasir di Kota Arafah, sekitar 22 kilometer arah timur Kota Makkah. Masjid yang memiliki luas 110 ribu meter persegi dengan rincian panjang 340 meter dan lebar 240 meter ini di topang enam buah menara besar.
semula masjid ini memang berada jauh di dalam kawasan padang Arafah dan di bangun pada abad kedua hijriyah oleh kekhalifahan Abasiyah. Namun karema perluasan yang di lakukan pemerintah Arab Saudi, sebagai masjid pada bagian depan, yang berada di luar kawasan Padang Arafah.
Masing-masing menara memiliki ketinggian sekitar 60 meter. Selain itu, masjid ini memiliki tiga buah kubah besar. Setidaknya, akan ditemukan sekitar 10 pintu masuk utama dan 64 pintu pendamping.

Untuk bisa menampung jamaah dalam jumlah banyak, masjid ini menyediakan pula sekitar 1.000 kamar mandi dan 15 ribu tempat wudhu. Untuk menambah kenyamanan para jamaah yang beribadah, pengelola masjid memasang ratusan mesin penyejuk udara. Demi kenyamana para Jemaah yang beribadah.

Masjid ini mampu menampung hingga 350 ribu orang yang datang ke sana. Ketika musim haji tiba, masjid ini bisa menampung lebih banyak lagi jamaah. Megah nya masjid ini, tidak lepas dari peran serta Pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Pada 2001 dari 12 proyek pembangunan yang menghabiskan biaya hingga 144 juta riyal, Masjid Namirah merupakan salah satu proyek yang mendapat kucuran dana yang sangat besar.

Kemewahan Masjid An-Namirah
Kemewahan Masjid An-Namirah

Kala itu, pihak kerajaan memberikan dana untuk melakukan renovasi sebesar 5,8 juta riyal. Selanjut nya, untuk penyediaan peralatan pendukung, mencapai 450 ribu riyal. Dan, terakhir biaya  yang di keluarkan sebesar 292 ribu riyal di gunakan untuk memperbaiki reservoir masjid. Di balik kemegahan Masjid Namirah, ada sebuah sejarah besar yang layak di ketahui oleh kalangan umat Islam di seluruh dunia.

Sejarah Masjid Namirah

Menurut hikayat setempat, masjid ini merupakan salah satu saksi pertama kali Nabi Muhammad Saw dalam  melaksanakan ibadah haji. Pada 9 Dzulhijah, ketika Nabi Muhammad Saw melaksanakan haji dalam perjalanan nya dari Mina menuju Arafah, beliau sempat menghentikan unta yang di bawa nya.

Ketika itu, sekitar waktu Dhuha, Nabi Muhammad Saw berhenti di Wadi Uranah dan mendirikan tenda berwarna merah. Nabi Muhammad Saw sempat beristirahat di tenda merah nya hingga waktu Dzuhur tiba.  Setelah itu, Nabi Muhammad Saw baru bergerak ke tengah Padang Arafah dekat Jabal Rahmah yang di yakini sebagai tempat di pertemukan nya Adam dan Hawa setelah “pengusiran” dari surga. Dalam perjalanan waktu setelah Nabi Muhammad Saw, wadi tempat mendirikan tenda tersebut di bangunlah sebuah masjid, yang kemudian di beri nama Namirah.

Kemewahan Masjid An-Namirah
Kemewahan Masjid An-Namirah

Masjid itu di bangun oleh salah seorang khalifah dari Dinasti Abbasiyah sekitar abad kedua Hijriyah. Sampai saat ini, setiap 9 Dzulhijah, aktivitas Nabi Muhammad Saw yang melakukan shalat Dzuhur di jamak dengan Ashar, masih tetap di lakukan oleh para jamaah haji. Dan, baru selepas Maghrib, jamaah meninggal kan tempat tersebut untuk kemudian menuju Muzdalifah. Maka ikutilah program Umroh Murah Jogja.

Bagian dari mimbar ini sampai kira-kira 50 meter kebelakang dan bukanlah termasuk dalam kawasan padang arafah dan sebagaian besar dari bangunan masjid yang sekarang berada dalam kawasan padang Arafah. Di dalam masjid ini di sediakan tanda batas-batas wukuf dalam berbagai versi bahasa, bahasa Indonesia, inggris,perancis,cina,urdu, turki dan arab tentunya.  Ketika akan mejelang wukuf yaitu saat matahari agak condong ke barat maka petugas haji maupun dari kepolisian Arab Saudi pasti akan mengingatkan dan akan menyeru kepada para jamaah haji untuk mengosongkan area sekitar mimbar sesuai dengan batasan padang Arofah.

Dengan enam menara yang tingginya seratus meter masjid ini di lengkapi pendingin udara berkapsitas besar dan di lengkapi dengan dengan fasilitas tempat mengambil air wuduk dan toilet yang memadai. Akan tetapi saat hari Arofah fasilitas ini terasa kurang jika di bandingkan dengan jumlah jamaah yang sangat ramai dan rela antri panjang jika menggunakan fasilitas terebut.

Jika Jemaah haj atau umroh yang berkeinginan berwukuf di dalam masjid tersebutm maka sebaiknya datang pada malam hari itupun dengan rela untuk berdesak saat akan memasuki masjid yang mulai buka saat menjelang watu subuh. Harus di pastikan tempat yang dipakai wukuf merupakan bagian dari padang Arofah, jika wukuf di luar padang Arofah haji tidak sah. Sedangkan wukuf merupakan rukun haji dan tidak bisa di gantikan dengan dengan dam ataupun dengan sejenisnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam sebuah hadis yang di sahihkan oleh Al-Bani dan Syuaib Al-Arnauth,”dari Jubair bin muth’im ra,dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda,”Seluruh Arofah adalah tempat wukuf, dan jauhilah tengah lembah ‘Uranah. (HR.Ahmad no.16.797).

Kemewahan Masjid An-Namirah
Kemewahan Masjid An-Namirah

Lembah ‘Uranah bukan merupakan bagian dari padang Arofah dan hendaknya jemaah haji tidak keluar dari kawasan padang Arofah kecuali setelah terbenam matahari, seperti yang telah di jelaskan dalam hadis yang menjelaskan wukuf Nabi. “Beliau terus wukuf , sampai matahari tenggelam, warna kuning sedikit pergi, dan bola matahari tidak kelihatan lagi.(HR.Muslim no.1284).

Sekarang ini batas-batas padang Arofah telah di tandai dengan papan tinggi besar warna kuning yang bertuliskan .”Bidayah an Nihayah dan dalam tulisan bahasa inggris juga,” Arofah start here.Tulisan ini nampak dengan jelas dari kejauhan.

Pada musim haji dan umroh, seorang jemaah saat itu bersama rombongan berangkat pada pagi hari setelah melakukan tarwiyah di Mina, dengan berjalan kaki sejauh 18 km menuju padang arofah, sampai di lembah uranah sebelum memasuki kawasan masjid Namira, kami tertahan karena tidak bisa masuk di karenakan lautan manusia yang sudah memenuhi area kawasan masjid dan tidak memungkin kan untuk bisa masuk, mulai dari sebelum wadi uranah sampai pintu jalan utama yang menuju masjid tersebut. Keinginan untuk lebih mendekat kami berdesak-desakan selangkah demi selangkah untuk bisa maju ke halaman masjid. Jarak yang hanya lima ratus meter terpaksa para jemaah tempuh lebih dari satu jam dengan menguras tenaga sambil mempertahankan diri agar tidak terjatuh yang kadang-kadang orang saling dorong untuk  bisa sampai di halaman ataupun daerah sekitar mesjid. Ada yang pingsan bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Askari/pihak keamanan tidak ampu mengendalikan suasana yang sangat ramai terebut. Sebagian jamaah haji dan umroh berebut untuk datang ke masjid hanya semata mendengarkan khutbah haji. Akhir nya sampailah kami dalam kawasan padang Arofah dan kemudian melaksanakan sholat di antara hempitan parkiran kendaraan kontainer yang membagikan makanan secara gratis untuk jamaah haji dan umroh.

Setelah sholat duhur dan Ashar secara jamak qashar barulah para jemaah mencari tempat yang longgar, Walaupun dengan rombongan tidak persiapan makanan kami tidak khawatir karena banyak yang berjualan makanan, nasi, bakso, mie rebus, mereka yang berjualan adalah orang Indonesia yang bermukim di Makkah. Cukup murah hanya 5 real untuk satu bungkus nasi dengan lauk daging. Maka dari itu bagi jemaah asal indonesia tidak khawatir dengan adanya pedagang yang berjualan asli orang Indonesia karena tidak kesulitan untuk bertansaksi juga bernegosiasi.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *